Belajar Dari Kegagalan Nokia dan BlackBerry


Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia bisnis, sebesar apapun bisnis yang anda kelola, apabila lambat berinovatif anda bisa saja kalah bersaing dan tertinggal dari kompetitor-kompetitor anda.

Persaingan bisnis itu kejam, tidak hanya untuk bisnis kecil saja, tapi bisnis dan perusahaan besar juga dapat tumbang dengan cepat. Bahkan tanpa pernah diduga-duga sebelumnya.

Tumbangnya Dua Perusahaan Ponsel Raksasa

Contohnya dua perusahaan ponsel raksasa yang pernah berjaya pada masanya, yakni Nokia dan BlackBerry yang namanya sudah tenggelam dan tidak diprioritaskan lagi di pasar ponsel. Dua perusahaan tersebut merupakan bukti yang menyatakan persaingan bisnis itu sangat kejam.

Banyak orang yang berpendapat bahwa kegagalan Nokia disebabkan oleh kelalaian mereka sendiri. Nokia terlena dengan kecanggihan yang mereka punya, tanpa pernah melihat keunggulan apa yang dilakukan oleh kompetitor. Sehingga mereka gagal untuk melakukan inovasi.

Bahkan, Nokia juga dikatakan terlalu lama berdiam diri dan meremehkan perusahaan kecil yang kemudian merajai industri smartphone. Hal itulah yang membuat merk sekelas Nokia akhirnya tumbang. Dan Sekali tumbang, maka susah untuk bangkit kembali. Hal pahit itu sudah dirasakan sendiri oleh perusahaan ponsel asal Finlandia tersebut.

Besarnya Kapitalisasi Pasar Nokia dan BlackBerry di Masa Silam

Awalnya, kapitalisasi pasar Nokia pernah lebih dari 110 miliar euro atau sekitar 149,4 miliar dollar AS. Namun sayang, pada September 2013 silam, Nokia menjual bisnis perangkat mobile itu kepada Microsoft dengan nilai 7 miliar dollar AS saja.

Begitu juga dengan BlackBerry, kapitalisasi pasar BlackBerry pernah mencapai 83 miliar dollar AS. Namun sama halnya dengan Nokia, perusahaan ini juga dikabarkan menjual aset perusahaannya ke sebuah perusahaan investasi dengan harga murah, yakni 5 miliar dollar AS saja.

Hal itu menunjukan bisnis apapun bisa gagal. Bahkan, perusahaan sekelas Nokia dan BlackBerry saja sudah bisa dikatakan gagal.

Kompetitor dan Persaingan

Perusahaan-perusahaan tersebut memang kalah bersaing dengan produsen ponsel lainnya, seperti Apple yang berhasil menelurkan ponsel Iphone-nya. Dan Samsung, juga terus menekan pasar melalui ponsel seri Galaxy-nya.

Dan strategi-strategi cemerlang yang diterapkan Samsung dan Apple berhasil menghantarkan mereka ke puncak pasar ponsel, serta sukses merajai industri ponsel di penjuru dunia.

Sementara Nokia dan BlackBerry kalah strategi,

Nokia kalah bersaing karena lebih memilih memakai sistem operasi Windows Phone. Padahal, masyarakat belum tertarik menggunakan sistem operasi tersebut. Dan nahasnya, sistem ini tidak diterima dengan laris di pasaran.

Tidak jauh berbeda dengan Nokia, BlackBerry juga dinilai tidak memiliki ragam keunggulan layanan, selain hanya mengandalkan BlackBerry Massenger (BBM) saja. Sehingga tidak heran, jika ponsel ini begitu cepat tertinggal oleh kompetitor lainnya. Bahkan, sistem operasi BlackBerry 10 juga tidak mampu menolong penjualan bisnis ponsel BlackBerry ini di seluruh dunia.

Studi yang Dilakukan Apple

Kemungkinan Nokia dan BlackBerry tidak berkaca dari studi-kasus yang dilakukan oleh perusahaan Apple, yang mengatakan bahwa konsumen ternyata tidak selalu menginginkan ponsel yang hanya dapat digunakan untuk sarana telepon saja. Namun, konsumen lebih memilih ponsel yang dirancang dengan baik dan dapat diintegrasikan dengan perangkat mobile internet.

Selain itu, perusahaan juga harus berpikir cerdas dalam membuat produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, tetapi tetap harus menguntungkan bagi perusahaan.



Released • 2019-05-20 11:20

Copyright © 2018- Bests App
Design with and alot of by CMS Network